Mencari Info Terdekat: Dari Mulut ke Mulut ke Layar Ponsel

Beberapa hari lalu, saya ingin tahu ada acara apa di sekitar Sendawar akhir pekan ini. Biasanya saya tanya tetangga atau lihat papan pengumuman di pasar. Tapi kali ini, saya buka ponsel, cek grup WhatsApp tetangga, lalu lihat Google Maps. Tanpa saya sadari, cara saya mendapatkan info terdekat sudah berubah total. Dulu terbatas, sekarang semua ada di genggaman.
Perubahan Cara Mendapatkan Info Terdekat
Di kota kecil seperti Sendawar, informasi dulu mengalir lewat obrolan warung kopi atau pengumuman lisan. Kalau mau tahu jadwal posyandu atau lomba tujuh belasan, harus tanya orang yang tahu. Tapi dalam lima tahun terakhir, grup WhatsApp RT dan komunitas lokal jadi sumber utama. Saya sendiri anggota grub "Info Sendawar" yang isinya ratusan warga. Setiap hari ada yang share lowongan kerja, acara gereja, pengajian, sampai jualan kue. Efektif, tapi kadang berantakan karena banyak pesan.
Selain grub, platform seperti Google Maps juga mulai dimanfaatkan. Teman saya yang punya warung kopi bilang, dia daftarkan lokasi usahanya di Google Maps supaya mudah ditemukan orang. Saya coba cari "kafe terdekat" di Sendawar, dan muncul beberapa pilihan. Padahal dulu saya harus jalan kaki atau tanya orang. Kini informasi lokasi dan jam buka bisa diakses detik itu juga. Bangeet bedanya Versi lebih panjang di info.
Fenomena ini bukan cuma soal kemudahan. Saya lihat juga ada perubahan kebiasaan: orang jadi lebih jarang bertanya langsung. Ketika ada acara bazar, info disebar lewat story Instagram atau status WhatsApp. Akibatnya, yang tidak aktif di grub atau media sosial bisa ketinggalan. Saya sendiri hampir kelewatan sunatan massal karena lupa ngecek notifikasi grub sebntar. Jadi, walaupun lebih cepat, tetap ada celah.
Pengalaman pribadi saya mengajarkan bahwa info terdekat sekarang bergantung pada seberapa aktif kita di jaringan digital. Tapi tidak semua orang nyaman dengan itu. Tetangga saya yang sudah berusia tujuh puluh lebih lebih suka tanya ke saya daripada buka ponsel. Peran perantara lama tetap ada, hanya saja cara kerjanya berubah.
Pada akhirnya, saya merasa kemudahan akses info terdekat ini membuat hidup lebih praktis, tapi juga menuntut kita untuk selektif. Tidak semua info di grub akurat, dan kadang hoaks tentang lokasi acara juga beredar. Saya selalu cek ulang ke sumber resmi atau tanya langsung ke panitia. Model lama dan baru padu-padan, itulah cara saya bertahan di Sendawar yang terus berubah.

Sumber lanjutan: sumber resmi